Belajar Caranya Belajar

Menghadapi Tantangan Baru

Aku pernah menghadapi tantangan sebelumnya, seperti belajar desain karena kebutuhan. Sekarang, aku menghadapi tantangan baru—Matematika dan Bahasa Inggris—tapi tekanannya terasa lebih berat.

Menjadi Sekretaris: Dari Tantangan Menuju Kesuksesan

Saat di pesantren, aku belum tahu apa passion-ku. Aku tidak pernah ikut kegiatan akademik di sekolah, dan aku merasa seperti seseorang yang tidak memiliki bakat apa pun. Perasaan ini terus berlanjut hingga aku menjadi sekretaris dalam sebuah organisasi di tahun keempat studiku. Di pesantrenku, ada pameran tahunan yang diadakan oleh siswa tahun keempat, dan ini pertama kalinya aku menjadi seorang sekretaris!

Pada awalnya, aku dan rekanku melakukan banyak kesalahan, namun untungnya kami memiliki keterampilan dasar komputer. Tantangan terbesar kami adalah tidak tahu cara membuat desain kop surat yang baik, dan kami juga tidak punya orang yang ahli dalam desain grafis. Kendala-kendala ini membuat pengalaman tersebut semakin sulit, tetapi juga mengajarkan kami pelajaran berharga dalam memecahkan masalah. Setelah itu, aku mulai mempelajari desain. Percaya atau tidak, orang-orang selalu memilihku untuk menjadi desainer di tahun-tahun berikutnya, dan sekarang ini menjadi salah satu bidang keahlianku.

Aku mendapat pelajaran berharga dari pengalaman ini: kadang, dipaksa untuk belajar sesuatu karena kebutuhan bisa membuka peluang tak terduga. Seperti halnya aku belajar desain, kini aku menghadapi tantangan lain—Bahasa Inggris dan Matematika.

Jujur saja, aku sangat buruk dalam Bahasa Inggris dan Matematika. Aku selalu menghindari kedua mata pelajaran ini. Namun, sekarang, suka atau tidak, aku harus menghadapinya. Aku punya mimpi untuk studi di luar negeri, dan aku harus menjadi baik di kedua bidang ini. Apa aku frustrasi? Tentu saja! Bagaimana mungkin seorang ‘musuh’ bisa tiba-tiba menjadi teman?

Tips Menerapkan Strategi Belajar yang Efektif

Saat aku kesulitan dengan studiku, guruku menyarankan agar aku belajar bagaimana cara belajar. Jadi, aku membeli buku dengan judul yang sama, Learning How to Learn, yang ditulis oleh Barbara Oakley. Buku ini benar-benar mengubah cara pandangku tentang belajar.

Dengan memahami rahasia teknologi tercanggih kita—otak—kita bisa mempelajari apa pun dengan lebih mudah. Hal yang paling kusukai dari buku ini adalah bahwa apapun yang kita pelajari, kita tidak pernah tahu kapan pengetahuan itu akan berguna.

Pelajaran berharga lainnya yang kupelajari adalah cara belajar yang benar. Ternyata kesalahan utamaku adalah pada strategi belajarku. Aku selalu teralihkan oleh hal-hal seperti membaca komik, novel, atau menonton film. Aku tidak bisa mengatur waktuku dengan baik. Akhirnya, saat aku perlu fokus, waktuku sudah banyak terbuang karena hal-hal sepele tadi. Inilah yang disebut penundaan. Dalam bukunya, Barbara menjelaskan bahwa penundaan sama seperti mengonsumsi arsenik dalam dosis kecil setiap hari. Betapa buruknya itu?

Ini adalah metafora yang baik untuk penundaan. Pada tahun 1980-an, ada sekelompok orang yang makan arsenik dalam dosis kecil setiap hari. Mereka berharap hal itu akan meningkatkan kekebalan tubuh mereka. Mereka tidak menyadari bahwa hal itu perlahan membunuh mereka, menyebabkan kerusakan serius seperti kanker dan masalah organ dalam lainnya.

Penundaan itu seperti mengonsumsi racun dalam dosis kecil—mungkin terlihat tidak berbahaya pada awalnya, tetapi seiring waktu, dapat menyebabkan kerusakan serius, seperti stres dan penyesalan saat tenggat waktu semakin dekat.

Kesimpulan: Mengambil Pelajaran dan Menerapkannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Aku belajar segala hal tentang cara belajar dari buku itu. Sekarang, aku tidak lagi merasa stres tentang studiku. Aku menikmati setiap kemajuan yang kucapai setiap hari, dan tidak masalah jika aku berkembang sedikit demi sedikit, asalkan aku menghindari penundaan dan belajar secara berlebihan dalam satu waktu. Aku berharap mempelajari kedua mata pelajaran ini (Matematika dan Bahasa Inggris) akan membawa keberuntungan di masa depan.

Sekarang, giliranmu untuk mempelajari sesuatu yang baru! Pelajari cara belajar yang benar, dan kemudian kamu bisa belajar apa saja.

Pacaran Berarti Cinta?

Menghadapi Berbagai Isu dalam Masyarakat

Banyak orang menggunakan alasan “saling mengenal dan mencintai” sebagai pembenaran untuk menjalin hubungan asmara. Beberapa bahkan mengklaim menjalani “hubungan Islami” atau sekadar berkomitmen satu sama lain sebelum menikah.

Sebagian besar orang menganggap pacaran sebagai bentuk cinta atau persiapan sebelum memasuki jenjang pernikahan, dengan dalih “sekadar untuk saling mengenal.” Namun, mari kita telusuri lebih dalam apa sebenarnya makna cinta.

Apa Itu Cinta?

Menurut Wikipedia, cinta adalah emosi yang kuat atau kasih sayang dan ketertarikan pribadi. Ini adalah perasaan positif yang diberikan kepada manusia atau benda lain dan dapat dirasakan oleh semua makhluk hidup.

Dalam Islam, cinta juga dijelaskan dalam Surah Ali Imran, ayat 14:

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Dengan demikian, cinta adalah naluri manusia yang wajar untuk saling mencintai. Namun, apakah ini berarti seseorang harus pacaran untuk mengungkapkan cinta? Jawabannya adalah tidak.

Mengapa Pacaran Tidak Diperlukan?

Jika benar-benar mencintai seseorang, seharusnya tidak perlu pacaran untuk menjaga martabat dan harga diri. Seseorang yang tulus mencintai akan menikahi orang yang dicintainya. Namun, beberapa orang bertanya:

“Bagaimana kita bisa mencintai jika tidak saling mengenal? Bagaimana saya bisa berlatih memperlakukan pasangan jika bukan melalui pacaran?”

Islam telah menyediakan pedoman lengkap untuk semua aspek kehidupan. Maka, tidak berpacaran bukan berarti tidak bisa mengenal calon pasangan. Solusinya adalah ta’aruf, proses perkenalan untuk menikah sesuai syariat Islam. Menariknya, pernikahan yang dimulai dengan ta’aruf sering kali lebih langgeng daripada pernikahan yang diawali dengan pacaran.

Apa Kekurangan dari Pacaran?

Menurut Ustad Felix Siauw, dunia ini memang tidak adil. Perempuan sering dinilai berdasarkan masa lalunya, sedangkan laki-laki dinilai berdasarkan masa depannya. Hal ini berarti, dalam banyak kasus, perempuan menjadi korban. Misalnya, ketika seorang perempuan ingin menikah, dia sering dievaluasi berdasarkan status perawan atau tidaknya. Ini bisa menyakitkan, terutama jika pasangannya juga bukan perjaka. Sementara itu, laki-laki tidak meninggalkan jejak seperti itu dari hubungan pacaran. Intinya, perempuan yang berpacaran meninggalkan jejak, sementara laki-laki tidak.

Pacaran Tanpa Melakukan Apa Pun? Masa sih

Jika seseorang mengatakan, “Saya pacaran, tapi kami tidak melakukan apa-apa,” maka jawabannya adalah, “Kalau begitu, kenapa pacaran jika tidak melakukan apa-apa?” Baik laki-laki maupun perempuan memiliki keinginan, jadi tidak masuk akal untuk berpacaran dalam waktu lama, bahkan bertahun-tahun, tanpa melakukan apa-apa. Banyak kejadian yang merugikan terjadi karena pacaran. Meskipun zina tidak selalu berawal dari pacaran, pacaran bisa menjadi jalan menuju zina. Na’udzubillah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut).

Dengan demikian, tidak ada konsep pacaran dalam Islam. Bahkan, Islam melarang tindakan yang mendekati zina. Mendekatinya saja dilarang, apalagi melakukannya.

Semoga Allah SWT melindungi kita dari perbuatan dosa.

Book Review: The Chronicles of Ghazi by Sayf Muhammad Isa and Felix Siauw

Book Review: The Chronicles of Ghazi by Sayf Muhammad Isa and Felix Siauw

  • Title: The Chronicles of Ghazi
  • Authors: Sayf Muhammad Isa, Felix Siauw
  • Publisher: Al-Fatih Press
  • Category: Fiction
  • Field of Study: Islamic History
  • ISBN: 978-602-71986-3-0
  • Book Size: 13 x 20.5 cm
  • Price: Rp. 350,000 per pack (6 series)
  • Publication Year: 2014

Synopsis

This novel tells the story of Mehmed II, known as Muhammad Al-Fatih, and his efforts to fulfill the promise of Prophet Muhammad (PBUH) made centuries before. The Prophet foretold that Constantinople would be conquered by the best leader alongside the best army.

Plot

The story begins with Osman, Mehmed’s ancestor, who dreams that his descendants will conquer the city. It then follows the struggles of the Ghazis, led by earlier sultans before Mehmed. The novel traces Mehmed’s life journey from his childhood—depicted as a proud and headstrong son of the sultan—to becoming a devout, ambitious leader loved by his people. His transformation culminates in the conquest of Constantinople, a city that had stood for over a thousand years.

Characters

The novel does not only focus on the rise of the Ottoman Empire but also portrays major figures from the Christian kingdoms, such as Jonas Hunyadi, Sigismund, and Queen Barbara, as well as Vlad Dracula, who becomes Mehmed’s main rival from childhood.

Writing Style

The authors masterfully craft epic sentences, allowing readers to vividly experience the struggles of the Ghazis. The plot is arranged according to the historical timeline, making it easy for readers to follow the flow of events. The authors also introduce the characters and their traits effectively, providing a rich insight into history.

The Chronicles of Ghazi is an extraordinary series for readers who enjoy deep historical tales filled with strong characters. With epic writing and a well-structured plot, this novel not only entertains but also offers valuable historical lessons.