Menghadapi Berbagai Isu dalam Masyarakat
Banyak orang menggunakan alasan “saling mengenal dan mencintai” sebagai pembenaran untuk menjalin hubungan asmara. Beberapa bahkan mengklaim menjalani “hubungan Islami” atau sekadar berkomitmen satu sama lain sebelum menikah.
Sebagian besar orang menganggap pacaran sebagai bentuk cinta atau persiapan sebelum memasuki jenjang pernikahan, dengan dalih “sekadar untuk saling mengenal.” Namun, mari kita telusuri lebih dalam apa sebenarnya makna cinta.
Apa Itu Cinta?
Menurut Wikipedia, cinta adalah emosi yang kuat atau kasih sayang dan ketertarikan pribadi. Ini adalah perasaan positif yang diberikan kepada manusia atau benda lain dan dapat dirasakan oleh semua makhluk hidup.
Dalam Islam, cinta juga dijelaskan dalam Surah Ali Imran, ayat 14:
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)
Dengan demikian, cinta adalah naluri manusia yang wajar untuk saling mencintai. Namun, apakah ini berarti seseorang harus pacaran untuk mengungkapkan cinta? Jawabannya adalah tidak.
Mengapa Pacaran Tidak Diperlukan?
Jika benar-benar mencintai seseorang, seharusnya tidak perlu pacaran untuk menjaga martabat dan harga diri. Seseorang yang tulus mencintai akan menikahi orang yang dicintainya. Namun, beberapa orang bertanya:
“Bagaimana kita bisa mencintai jika tidak saling mengenal? Bagaimana saya bisa berlatih memperlakukan pasangan jika bukan melalui pacaran?”
Islam telah menyediakan pedoman lengkap untuk semua aspek kehidupan. Maka, tidak berpacaran bukan berarti tidak bisa mengenal calon pasangan. Solusinya adalah ta’aruf, proses perkenalan untuk menikah sesuai syariat Islam. Menariknya, pernikahan yang dimulai dengan ta’aruf sering kali lebih langgeng daripada pernikahan yang diawali dengan pacaran.
Apa Kekurangan dari Pacaran?
Menurut Ustad Felix Siauw, dunia ini memang tidak adil. Perempuan sering dinilai berdasarkan masa lalunya, sedangkan laki-laki dinilai berdasarkan masa depannya. Hal ini berarti, dalam banyak kasus, perempuan menjadi korban. Misalnya, ketika seorang perempuan ingin menikah, dia sering dievaluasi berdasarkan status perawan atau tidaknya. Ini bisa menyakitkan, terutama jika pasangannya juga bukan perjaka. Sementara itu, laki-laki tidak meninggalkan jejak seperti itu dari hubungan pacaran. Intinya, perempuan yang berpacaran meninggalkan jejak, sementara laki-laki tidak.
Pacaran Tanpa Melakukan Apa Pun? Masa sih
Jika seseorang mengatakan, “Saya pacaran, tapi kami tidak melakukan apa-apa,” maka jawabannya adalah, “Kalau begitu, kenapa pacaran jika tidak melakukan apa-apa?” Baik laki-laki maupun perempuan memiliki keinginan, jadi tidak masuk akal untuk berpacaran dalam waktu lama, bahkan bertahun-tahun, tanpa melakukan apa-apa. Banyak kejadian yang merugikan terjadi karena pacaran. Meskipun zina tidak selalu berawal dari pacaran, pacaran bisa menjadi jalan menuju zina. Na’udzubillah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut).
Dengan demikian, tidak ada konsep pacaran dalam Islam. Bahkan, Islam melarang tindakan yang mendekati zina. Mendekatinya saja dilarang, apalagi melakukannya.
Semoga Allah SWT melindungi kita dari perbuatan dosa.
