Kisah Inspiratif dari Muhammad Al Fatih

Kisah Inspiratif dari Muhammad Al Fatih

Masih ingat novel fiksi sejarah Ghazi karya Muhammad Sayf dan Felix Siauw? Kali ini saya akan membahas lagi tentang tokoh itu. Tapi, bukan tentang review buku, melainkan tentang kisah perjuangan seorang Mehmed. Kisahnya sangat menginspirasi, terlebih bagi pemuda yang punya cita-cita besar.

Karakter Muhammad Al-Fatih

Mehmed adalah pemuda yang punya ambisi besar dan penuh semangat. Mungkin pembaca pertama kali akan menilai ia adalah pemuda yang sedikit keras kepala. Namun, menurut saya sih bukan keras kepala ya, tapi ia adalah pemuda yang mempunyai pendirian yang kuat.

Dalam meraih mimpinya, Mehmed selalu bersemangat dan tanpa menyerah. Tak kalah kerennya lagi, ia adalah pemuda yang sangat bertakwa. Hampir setiap malam tahajjudnya tak pernah terlewat. Di siang hari ia tegas, penuh ambisi untuk mengejar cita-citanya. Di malah hari, ia selalu sujud tak berdaya di hadapan Rabbnya. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kisahnya menjadi inspirasi bagi ummat, dari segi ketakwaannya, perjuangannya serta tekadnya yang kuat.

Setelah membaca kisahnya, semangat saya seakan-akan bangkit lagi untuk terus meraih cita-cita. Karena cita-cita memang harus diraih dengan usaha yang maksimal, tentunya juga dengan tawakkal kepada Allah.

Belajar dari Pengalaman Muhammad Al Fatih

Satu adegan yang paling berkesan menurut saya adalah ketika Mehmed tak berdaya menjadi sultan ketika di usianya yang masih sangat muda. Ketika itu, banyak menterinya yang tidak percaya dan belum yakin bahwa Mehmed dapat menjadi pemimpin baik seperti ayahnya, Sultan Murad. Maka ia memilih untuk mundur dari posisinya dan ayahnya naik kembali sebagai seorang sultan. Hal itu memberi kita pelajaran akan takdir Allah.

Setelah saya pikir-pikir, penyebab Mehmed mundur dari posisinya bukanlah tidak-becusannya menjadi pemimpin. Menurut saya, hal ini hanya perihal ‘waktu’ yang Allah berikan. Menjadi sultan di usia semuda itu merupakan cobaan baginya, bagaimana ia akan mengambil pelajaran disaat itu, untuk menjadikan kepemimpinannya jauh lebih baik di masa depan. Tentu saja, karena Allah akan memberikan segala sesuatu disaat yang tepat.

Banyak orang di dunia ini yang mengalami kegagalan. Bahkan, Seorang Penakluk Konstantinopel pun seperti Mehmed merasakannya!. Yang membedakan adalah, bagaimana kita menanggapi sebuah kegagalan? Apakah hal itu akan melebarkan jalan kita menuju kesuksesan, atau malah membuat kita menyerah?.

Gurunya, Syaikh Aaq Syamsuddin menasihati Mehmed. “Maka hadapilah semuanya dengan gagah berani. Berdo’alah kepada Allah, dan jangan menyerah. Kemenangan itu adalah ketika tidak ada lagi keraguan sedikitpun di dalam hati kita. Tidak peduli apa yang dilakukan dan apa yang dikatakan semua orang, kita tetap teguh di atas keyakinan itu.”

Satu nasehat lagi yang membuat saya terinspirasi, “Percayalah kepada pertolongan Allah walau semua orang meragukanmu, Mehmed. Yakinlah bahwa Dia akan memberi jalan keluar. Dan terkadang jalan keluar itu datang ketika kita mundur satu langkah, dan disanalah Allah akan menganugerahkan kekuatan kepada kita. Mundurlah sejenak Mehmed, dan persiapkan kekuatanmu. Allah takkan pernah meninggalkanmu.”

Dengan penuh keteguhan, Mehmed mundur dari posisi sultan. Tapi, ia memanfaatkan waktunya untuk belajar menjadi pemimpin yang baik di masa depan. Hasilnya, seperti yang kita tahu, dia menjadi sebaik-baik pemimpin yang dijanjikan Rasulullah untuk menaklukkan Konstantinopel.

Pelajaran yang Bisa Diambil dari kisah Muhammad Al Fatih

Artinya, kegagalan yang kita alami justru menjadi pembuka jalan untuk menuju kesuksesan. Allah ingin kita terus berproses menjadi lebih baik. Maka jika waktunya sudah tepat, Allah akan memberikannya, ataupun menggantikannya dengan yang jauh lebih baik. Barakallah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *