Kenapa Aku Menulis Ini
Lahir di keluarga Muslim adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Namun, tak jarang aku merenung, mengapa aku lahir di zaman seperti ini—zaman ketika ketidakadilan merajalela, manusia bertindak melebihi hewan, dan kerusakan menyelimuti bumi. Dari perenungan itulah aku belajar bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Maka, pasti ada amanah besar yang menanti kita, khususnya umat Islam.
Apa amanah besar itu?
Jawabannya terpampang jelas di layar-layar handphone, televisi, hingga komputer kita: pembantaian terbesar sedang terjadi di tanah para nabi—Palestina.
Tanggal 7 Oktober 2023 menjadi titik balik yang membuka mata dunia, termasuk mataku sendiri. Meski sebelum itu telah banyak tragedi kemanusiaan terjadi, hari itu menjadi pemantik kesadaranku. Aku pun mulai menggali lebih dalam tentang Palestina. Dan satu nama yang selalu terngiang saat mendengar kata Palestina adalah: Baitul Maqdis.
Ternyata, ia bukan sekadar tempat tua penuh sejarah, tetapi juga saksi bisu perjuangan umat Islam dan bagian penting dari aqidah yang harus kita jaga sepenuh jiwa.
Apa Itu Baitul Maqdis?
Langkah pertama untuk peduli pada Baitul Maqdis adalah memahami “why”–mengapa kita harus peduli?
Dalam buku Baitul Maqdis for Dummies, disebutkan beberapa alasan penting:
1. Keterikatan Langsung dengan Rasulullah ﷺ
Sebelum perintah salat menghadap Ka’bah (Masjidil Haram), Rasulullah ﷺ lebih dahulu salat menghadap Masjidil Aqsha selama 14,5 tahun. Ini menunjukkan bahwa Baitul Maqdis punya tempat istimewa dalam perjalanan kenabian beliau.
“Sungguh Kami telah melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai.”
(Q.S. Al-Baqarah [2]:144)
2. Barometer Kondisi Umat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jika penduduk Syam telah rusak, maka tidak ada lagi kebaikan pada kalian.”
(H.R. Tirmidzi)
Kondisi Baitul Maqdis mencerminkan kondisi umat Islam. Ketika Syam menderita, itu pertanda bahwa umat ini sedang dalam titik lemah.
3. Tempat Para Nabi dan Orang Mulia
Masjidil Aqsha adalah satu-satunya tempat yang menjadi saksi berkumpulnya seluruh nabi dan rasul. Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah ﷺ memimpin shalat sebanyak 124.000 nabi dan rasul di sana.
Ibunda Maryam—salah satu dari empat wanita paling mulia—juga tinggal dan berkhidmat di tempat ini. Bahkan anaknya, Nabi Isa AS, lahir di kawasan Baitul Maqdis.
4. Bagian dari Aqidah
Kita seringkali melihat isu Palestina dari sisi kemanusiaan, padahal yang lebih mendalam adalah bahwa Baitul Maqdis adalah perkara aqidah. Seluruh ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tempat ini diturunkan di Makkah (Makkiyah), saat Islam masih berjuang menanamkan aqidah. Ini menunjukkan urgensinya sebagai bagian dari keimanan, bukan sekadar solidaritas sesaat.
Bahkan, sepertiga dari isi Al-Qur’an membahas tentang Baitul Maqdis. Maka, tak ada alasan untuk tidak belajar dan peduli.
5. Tanah Harapan dalam Masa Sulit
Tahun ke-7 kenabian disebut sebagai ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan). Rasulullah kehilangan dua orang terdekatnya, istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Dakwah ke Thaif pun ditolak dan disambut dengan lemparan batu.
Namun Allah menenangkan hati Rasul dengan perjalanan luar biasa: Isra’ Mi’raj.
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…”
(Q.S. Al-Isra’ [17]:1)
Rasul naik ke langit dari Qubbat As-Sakhrah (Dome of the Rock), tempat batu pijakan saat beliau mi’raj. Hal ini menegaskan bahwa Baitul Maqdis adalah penghubung antara langit dan bumi.
6. Tempat Berkumpul Umat di Hari Kiamat
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kita adalah umat yang terakhir, namun yang pertama dihisab dan masuk surga.”
(H.R. Muslim)
Dan tempat berkumpul manusia di hari kiamat adalah Negeri Syam, sebagaimana sabda beliau:
“Kalian akan dikumpulkan di sana, berjalan kaki, berkendara, atau diseret dengan wajah tertelungkup.”
(H.R. Ahmad & Al-Arnauth)
Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai Anak Muda?
Sebagai pemuda, kita harus menanamkan dalam hati bahwa membela Baitul Maqdis adalah misi hidup jangka panjang. Mungkin sekarang kita belum mampu pergi ke sana atau mengubah dunia secara nyata. Tapi, setiap aksi kecil hari ini adalah benih untuk masa depan.
Mulailah dari hal sederhana: membaca buku, menonton dokumenter terpercaya, mengikuti perkembangan isu dari sumber yang jujur. Dari individu lahir komunitas, dari komunitas terbentuk sistem, dan dari sistem lahirlah peradaban.
Teruslah bicara tentang Palestina, jangan berhenti. Jadikan Baitul Maqdis bukan hanya trending topic, tapi bagian dari doa dan perjuangan seumur hidup.
Penutup – Refleksi Pribadi
Semakin aku tahu tentang Baitul Maqdis, semakin aku merasa belum cukup tahu. Bukan puas, tapi malah merasa harus lebih giat belajar dan berbuat. Karena kita tak bisa peduli pada sesuatu yang tak kita pahami.
Sebagai seorang Muslimah, aku sadar betul bahwa masa depan umat ada di tangan perempuan. Dari rahim perempuan akan lahir para pejuang, dan dari keteguhan hatinya akan tumbuh peradaban. Maka aku harus kuat, cerdas, dan tak pernah lelah belajar. Karena Baitul Maqdis adalah tentang kita semua.

